Jumat, 11 November 2011

Pugaran Beranda Kemarin

Pendakain biasa dilakukan dengan beberapa cara dari jenis pendakian solo, duo, tigo, ampe … hehe … maksudnya ada yang memang senang mendaki sendirian, beregu, dan dalam jumlah kelompok yang besar. Suasana yang didapatpun tentunya bervariasi, mengandung nilai positive dan negative berbeda dan tentun saja perlu harmonisasi mood.

Dengan keadaan yang berbeda itulah dalam setiap pendakian biasanya kita mendapatkan sisi cerita yang menarik sekaligus mengesankan, entah dari jumlah tim ataupun keadaan mental peserta pendakian itu sendiri. Saya sendiri lebih senang mendaki dengan sedikit orang namun akan lebih senang juga mendaki dengan banyak orang, ..hehehe .. gak ada bedanya ya ..??.

Namun dalam beberapa pendakian yang saya lakukan sering kali saya mendaki hanya berdua saja, tentu saja dengan kategori “soulmate” teman sehati atau sahabat karib. 

*****
ROMANTISME C MINOR

Duduk diteras rumah sambil menghisap rokok dan segelas kopi sepertinya sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu, maka tak aneh jika teman-teman memanggilku Mbah, Karuhun atau semacamnya. Tentunya dengan di temani sebuah gitar kayu kopong buatan local suasana lebih semarak walaupun harus duduk sendirian berjam-jam. Kenyataannya memainkan senar-senar gitar string yang menimbulakn alunan nada lagu ditambah sedikit falsnya dari vokalku bukan hanya sebuah keisengan belaka.

Benar … sore itu aku sedang dilanda sepi, sebuah hasrat kerinduan yang entah dari mana datangnya sedang menderu-deru kencang dalam dada. Rasa itu tak lain adalah “kangen”. Memang sih terhitung sejak dua bulan yang lalu saya belum pergi lagi untuk mendaki. Namun pertanyaannya kemana saya akan mendaki, rasa bingung untuk memberikan pilihan telah terjadi, apalagi bila keinginan ini datang dengan mendadak. Kucoba melihat urutan dalam peta sekiranya ada gunung yang belum terdaki, namun cukup dekat dari Jakarta, melihat kondisi keuangan ku juga yang sedang morat marit, maklumlah aku Cuma seorang pengangguran yang baru punya uang setelah menerima order service computer.

Beberapa lagu yang kudengarkan dari Menuju Hutan Cemara milik Katon Bagaskara sampai kidung-kidung perekat alam lainnya, malah membuat rasa ini semakin menjadi. Namun entah kenapa ketika mp3 musik dari Hp ku mendendangkan sebuah lagu milik Dewa 19 dengan judul Mahameru,, membawa anganku melangkah kedalam setiap bait syairnya. 

*****

GEJOLAK KEPASTIAN 

Kota yang semakin padat dengan suhu rata-rata 320c ini membuat kamar 2 x 2 ku semakin panas, malam ini pikiran hanya tertuju pada sebuah Gunung legendaris, entah apa maksudnya … namun “ jika ingin mengetahui jawabannya aku harus kesana “ pikiran ini memaksa. 

segera saja begitu matahari terbit ku kumpulkan semua peralatan pendakianku agar bisa cepat-cepat pergi kesana. Gejolak ini sudah tak terbendung lagi rasanya. Dan ternyata kompor yang biasa ku pakai masih tertinggal di rumah salah seorang teman yang memang biasa mendaki bersama denganku, namun untuk menemuinya aku harus menunggu sore menjelang, tepat saat para pekerja pulang dari kantornya. ya .. karena temanku ini adalah seorang pekerja, beda denganku.

30 menit Sebelum jam pulang kerja terjadi, aku sudah duduk di pinggiran gang, tempat temanku biasanya lewat sepulang kerja. sebatang demi sebatang rokok yang kuhisap sudah menghabiskan empat batang dari bungkusnya. Hingga kulihat wajah yang sangat akrab itu muncul dengan senyumannya yang khas adalah batas dari penantianku, itulah sahabatku Jamal, namun kami biasa memanggilnya dengan alias “ JM “. 

Salam khas biasa dia lantunkan sebagai pribadi beradap dan sopan, JM juga dikenal sangat santun dalam bergaul, sehingga tak sedikit teman-teman menaruh hormat padanya, tapi JM juga bisa sangat galak bila sudah marah dan saat itu terjadi tak ada dari kami yang mampu meredamnya. Candanya sering membuat kami terpingkal-pingkal hingga sakit perut ini dibuatnya. 

Tanpa basa basi lebih panjang lagi kami bergerak menuju rumahnya untuk mengambil kompor. “emang mo kemana lo” sambil merengutkan dahi dia bertanya. “Malang broo..” singkat ku. “hmmm .. jadi gak ngajak gw neh …?? “ di hisapnya rokok dalam-dalam seperti menahan kesah. “gw ikut … ‘” ketus terasa dari mulutnya. 

Aku tersenyum .. memang seperti itu biasanya, jika salah satu diantara kami pergi, pasti yang lainnya akan ngiri, jadi hasilnya kami akan mendaki berdua. 

*****

TERBIASALAH MENERIMA REALITA

Stasiun senen menjadi pilihan saat perjalanan menggunakan kereta harus terjadi, selain jarak yang cukup dekat dengan kediaman kami, tarip kereta lebih murah dari transportasi lain. Segera saja kami menuju tempat loket biasa tiket kereta bisa di dapat. Ternyata loket sudah penuh dengan antrian yang cukup panjang, 

Dengan sabar kami menunggu antrian itu, namun belum lagi kami sampai loket suara nyaring terdengar dari balik sound diatas tiang sebelah kanan ku, “ Perhatian … kepada semua calon penumpang yang akan menggunakan kereta ekonomi Matramaja, bahwa tiket untuk hari ini telah habis terjual, sekian dan terima kasih”, kurang lebih seperti itu bunyi suara nyaring tersebut, dan itu berarti niat kami untuk menuju Malang telah tertahan.

Lemas rasanya tubuh ini, ocehan dari mulut manis ini pun berceceran bagai lontaran selongsong peluru mesin jaman PD II. “gila ..masa kita naek mobil broo … wah bisa gak cukup neh ongkos “ akhir dari baris ocehanku. JM yang dari setadi setia mendengarkan mulut manis ini hanya tersenyum lebih manis bahkan, aku terheran .. apa maksud dari senyumannya itu, sekilas terasa bagaikan tebasan golok tajam menghantam wajah. “kenapa lo ..?? “ tanyaku. “gak .. santai ja bro, pasti ada jalan keluarnya, yang pentingkan kita naek gunung, hehehe .. “ ejek nya.

Bayang-bayang yang sedari kemarin telah terbentuk di otakku tiba-tiba musnah tercecer setelah suara di balik sound itu ngoceh. sungguh suara yang sangat menyakitkan.

“ Kita ke lawu aja yuk ..??? “ Jm semangat sambil senyum kecil. “ ya udahlah kemana aja” padahal aku menyimpan rasa kecewa dalam hati. Tenggelam sudah Ranu kumbolo yang berselimut kabut itu dalam hatiku, ilalang oro-oro ombo yang dikelilingi bukit dan gunung, kawah jonggring saloka pun hilang letusannya. Tinggal puing-puingnya yang runtuh disekitar dinding hati ini.

Segera kami berlari menuju loket Solo Jebres, barangkali ada tiket yang belum terjual, dan … duuarr .. !!! tiket masih ada, kereta pun berangkat jam 17.00 wib berarti kami masih punya waktu satu jam lagi, lumayan buat ngisi perut yang sedari berangkat tadi belum diisi karena sudah terburu ngebet ingin pergi.

BERITA DI TAWANG MANGU

Sekitar pukul 06.00 wib pagi kami tiba di stasiun Solo Jebres, udara yang sedikit berbeda dengan Jakarta menjadi penghantar saat kami menyendok nasi plus soto babat di samping stasiun, setelah perjalanan yang cukup panjang serta kurangnya istirahat karena selalu di tabrak pedagang dan pengamen yang lalu lalang di dalam gerbong kereta membuat perut ini keroncongan rupanya. Maklum semalaman perut kami hanya terisi kopi dan asap rokok.

Tanpa butuh waktu lama santapan pagi itu mudah sekali lenyap, perjalan masih berlanjut hingga kami sampai di terminal Tawang Mangu, sebuah terminal tempat kami transit dari solo menuju Gunung Lawu. Beberapa toko kelontong yang berjejer kami lihat banyak juga yang menjual derigen/kompan, kebetulan sekali kami hanya membawa satu derigen berkapsitas lima liter, karena dirasa kurang akhirnya keputusan untuk membeli satu lagi terjadilah sudah.

Mobil cool yang berjejer rapi dengan para kernetnya yang bergantian menawarkan kami tumpangan menjadi tuan penyambut tamu yang baik bagi kami, mereka begitu sopan menawarkan tumpangan, berbeda dengan Jakarta, dimana para kernetnya lebih angkuh dari pejabat korup, mereka tak segan-segan membentak para penumpang seolah mereka tak butuh penumpang “ironic”.

Dan ketika kami masuk ke salah satu mobil yang ada kami tersenyum lebar melihat isi mobil tersebut tak lain dan tak bukan adalah para pendaki yang mempunyai tujuan sama yaitu Lawu. Tentu saja saling sapa dan memperkenalkan diri menjadi kegiatan dalam mobil itu. 

Inilah salah satu daya tarik tersendiri dari mendaki, selain menyalurkan hasrat, kita juga dapat menambah teman lebih banyak dengan karakteristik yang beraneka. Sungguh suatu kegiatan yang benar-benar menyenangkan. Tak terasa mobil yang melaju terus keatas telah mengantarkan kami tepat didepan pintu gerbang Cemoro Kandang, salah satu pintu masuk standart dari dua pintu yang ada. Namun lagi-lagi mata kami tertuju pada warung diseberangnya, terlihat dari sudut pandang kami warung itu menyajikan makanan yang berselera dan perlu untuk di coba, cepat saja kami kesana, “kopi “ teriaku pada pemilik warung, teman yang lain pun tak mau kalah melakukan pemesanan sesuai selera dan kebtuhan.

Satu jam sudah kami saling mendekatkan diri, mencoba lebih akrab, hingga waktu menunjukan pukul tiga sore itu. Dengan kesepakatan bersama kami putuskan untuk mendaki bersama dan turun bersama pula melihat asal kota kami pun sama, hehehe ..Indahnya kebersamaan.

TIDURLAH JIKA INGIN

Perjalanan untuk menuju puncak gunung bukanlah suatu hal mudah, kadang naik, kadang turun, tak jarang juga berhenti diperlukan saat tubuh mulai lelah. Sesekali celoteh-celoteh konyol dilontarkan untuk lebih memeriahkan perjalanan. Mungkin segelas kopi dan beberapa batang rokokpun bisa menjadi asupan yang baik bagi mental dan pikiran. Waktu yang cukup dekat dengan senja terbenam membuat kami memutuskan untuk bermalam di sekitar Pos II yang juga dikenal dengan Taman sari Atas, dimana terdapat sebuah bedeng dan aroma kawah yang khas “belerang”.

Melihat situasi dan kondisi dimana hanya kami yang berada di tempat itu, jadi kemungkinan mendirikan tenda di dalam bedeng menjadi topic utama, dimana dari empat tenda yang didirikan aku dan JM lah yang tidak membawa tenda, memang kami berencana mengurangi beban dengan hanya membuat bivak, kami pun mendapatkan posisi paling pojok dengan tiga tenda berhadapan di depan kami. Segera saja kompor ku keluarkan dan air segera dimasak, untuk menjadikannya wedangan kopi yang nikmat penghantar matahari tenggelam. Namun entah kenapa JM yang biasanya ceria kini menjadi pendiam, “ Kenap bro..” heran aku melihatnya. “gak kenapa-napa ..” perlahan tapi pasti terdengar dari mulutnya. “ mau kopi apa teh nih ..” , dia tidak menjawab, hanya tersenyum, seolah aku sudah mengerti apa yang diinginkannya.

Terlihat jelas di raut wajahnya, kelelahan yang dahsyat sedang melanda, tubuhnya yang sudah terbalut jaket masih menggigil, ditambah getaran-getaran kaki yang tak teratur membuat siappun yang melihat akan merasa iba. Segera ku racik teh manis dan mie rebus sekedar menghibur rasa lelahnya. Namun ia tidak menghiraukan tawaranku itu. “ya udah bro ..tidur aja dulu, setelah bangun baru lo makan “ saranku. 

Dia tetap tak menjawab, diam saja, aku yang merasakan lelah juga tak terlalu ambil pusing, mungkin memang tidurlah yang lebih di butuhkannya. Malam yang semakin larut menghantarkan kantuk ini semakin gila, ku raih sleeping bag untuk membalut tubun ini, dan segera menyusul JM yang sedang bermain di alam mimpi.

*****

INSTRUMENT SELAMAT PAGI

Dari celah-celah bedeng yang berlubang, matahari memperlihatkan sinarnya. Aku yang terbangun oleh suara burung pagi langsung saja membuat kopi untuk menikmati aroma pagi ini. Tatkala ku ayunkan langkah keluar dari bedeng, kicauan para burung menyambutku lebih ramai, mereka mengucapkan salam selamat pagi dengan bahasa mereka sendiri. Tak ketinggalan para rakun berlarian ke dalam semak untuk membagi jatah makanan dengan cepat, membuat langkahnya bagai tabuhan marching band. Wow begitu indah pagi ini, keakraban mereka ini yang membuatku selalu ingin berkunjung dan berbicara dari hari ke hati dengan mereka.

Dua batang rokok telah habis kuhisap, namun JM masih juga belum memperlihatkan senyumnya dari balik bivak. “hmmm .. perlu di bangunin nih” pikiranku mengatakan. Langkah kecil yang kuambil menuju bivak, ternyata sudah dapat di dengar oleh JM, alhasil dia sudah terduduk di dalam bivak sambil mengenggam gelas berisi teh buatan semalam.

Membuat sarapan, ngopi, ngeroko, dan saling lempar kata-kata konyol adalah kegiatan pagi itu, ketika semua yang ada sudah terbangun. Kicauan burung yang tadi ramai mulai terdiam berganti kicauan kami yang saling mengejek terbawa situasi. Alangkah menyengkan bila ditempat yang kita sukai berinteraksi dengan orang-orang yang menyenangkan. Terasa hidup ini begitu sempurna.

*****

CEMARA DAN ELANG

Saatnya menyantap hidangan yang sejak tadi kami racik, mencoba membaginya seadil mungkin menurut jumlah sebanyak dua belas orang yang ada, masing-masing mengambil bagianya sambil memilih tempat yang pas untuk melahapnya. Namun JM semenjak tadi hanya menghisap rokok dan teh manis sambil berceloteh mengumbar canda. Piring makanannya masih menunggu untuk disentuh, tapi tak sedikitpun dia meliriknya, kucoba untuk menyuruhnya makan, namun hanya senyum lagi-lagi yang kudapatkan tanpa jawaban pasti. “ Gila … dari malem kan lo belom makan bro .. ? “ dengan nada agak tinggi kusampaikan padanya. “ gw masih kenyang ..” seraya tersenyum. “ Emang kapan lo makan ?? “ aku memastikan jawaban yang relevan. Namun senyum itu lagi yang ku dapatkan.

Jengkel mulai menguasai hati ketika melihat dari kemarin JM tidak memakan apapun tak lebih dari teh manis kemarin malam. Pikiranku mulai bekerja mengingat-ingat apakah benar dia sudah makan, semakin dalam..semakin dalam .. namun memory tetap tak menemukan fakta bahwa dia telah memakan sesuatu untuk tubuhnya.

Hati kecil bertanya padaku “Apa gerangan yang terjadi ? “, “kenapa dia tidak mau makan “. Apakah dia sekarang menjadi manusia sakti yang dapat menahan lapar hingga berhari-hari sedangkan perjalanan memerlukan energy yang cukup besar. Ah .. sudah gila dia, otak ini terus berputar sehingga menghasilkan rasa kesal tak tertahankan.

“ Mulai sekarang kalo lo gak mau makan ya udah urus ..urusan lo sendiri !! ” Teriaku padanya sambil meneruskan perjalanan yang telah kami mulai sejak pukul sepuluh tadi pagi. Aku berjalan lebih dulu agar tak melihat mukanya yang Cuma senyum jika diberi pertanyaan itu, rasa kesal ini takan tahan bila berada dekat dengannya, sehingga kupuskan tidak akan bicara dengannya sebelum melihatnya memakan sesuatu. 

Bermodalkan kesal dalam hati dan masa bodoh mengakibatkan langkah kaki ini semakin cepat jauh meninggalkan teman dibelakang, hingga sampailah aku pada suatu titik putaran jalur dimana terhampar luas sejauh pandangan menghilang, dimana awan dapat yang bergerak bebas tanpa membentur apapun. Dipunggungan ini kuhentikan langkahku, melihat bebas kedepan, tampak pohon-pohon cemara tertancap kokoh berdiri gagah menjulang langit, mereka tidak sendiri, di atas kepala mereka ada sesosok makhluk indah melayang bebas, sesekali berteriah lantang menyapaku. Sesekali ia kepakan sayapnya untuk membuat sebuah manuver-manuver indah memarekan kepandaiannya. Di pucuk cemara yang lain tampak dua ekor lainnya sedang bersiap landing menunggu gilirannya. Dan akhirnya mereka bertiga saling melayang membuat gerakan-gerakan gesit sambil menyanyikan lagu kesukaannya.

oohh … sungguh tak dapat kupercaya, sebuah pementasan sepektakuler ini dapat ku saksikan secara langsung, bagaikan seorang pejabat yang berkunjung kesuatu daerah dan disambut oleh para tuan rumah dengan adat mereka. Hormat dan takjubku pada kalian wahai Cemara dan Elang.

*****

Melihat pemandangan langka itu membuat teman-teman yang tertinggal dibelakang menjadi menyalip langkahku, hal itu baru kusadari saat kami sampai di Pos IV dengan julukannya Puncak Cokro Suryo, ternyata disana sudah menunggu hampir seluruh teman sependakianku. dan tanpa kusadari sore mulai menjelang. Perjalanan dilanjutkan kembali setelah semua pendaki bertemu di Pos IV itu. Kesepakatan kami adalah bermalam di Hargo Dalem malam ini.

Tak sampai dua jam kami sudah berada di Hargo Dalem tempat dimana kami akan bermalam saat ini, sebagian dari kami ada yang langsung mendirikan tenda, ada juga yang langsung menuju Hargo Dumilah setelah menaruh barang mereka di dalam bedeng tempat kami bermalam. Aku yang sedang kesal sama JM langsung menuju sebuah tempat yang katanya adalah makam Prabu Brawijaya V, seorang raja dari jaman lalu. Aroma dupa dan berbagai sesajen terlihat disini, kebiasan ritual kepercayaan tampak masih berjalan disini.

Namun malam yang mulai Nampak menyeretku masuk kedalam bedeng untuk menghangatkan diri dalam sleeping bag di bivak ku, dan tak menunggu lama aku sudah bermain dalam mimpi. 

MELIRIK MALAM

Sayup-sayup terdengar suara obrolan yang berasal dari luar bivak, kulihat JM yang biasa terpulas di sebelahku tak Nampak, “ hmm .. rame banget sih kayanya di luar sana”, karena merasa kondisi tubuh sudah pulih ku coba bangkit dan keluar dari bivak, benar juga adanya, JM dan beberapa teman yang lain sedang bersenda gurau dengan gelas berisi kopi di depan setiap mereka.

“Wah … masih malam toh mas …” sapa ku, sempat terkaget ternyata hari masih gelap, padahal perasaan tidur ku cukup lama, hingga badan tersa sangat segar.

Tanpa banyak basa-basi kami mulai melempar banyolan sembari menghirup kopi minuman khas setiap hari. Dan … apa gerangan yang terjadi ?? .. “keajaiban sedang berlangsung “, sedari tadi JM kulihat tak henti-hentinya melahap makanan yang berada tepat didepannya. Hmmm … aku mual senang, ternyaata JM tidak berubah menjadi manusia sakti yang dapat menahan lapar sampai satu bulan, hehehe … dia masih bisa lapar.

*****

KANGEN

Setalah puas dan berfoto di puncak Gunung Lawu (Hargo Dumilah) kami langsung melanjutkan perjalanan turun mengambil arah Cemoro Sewu, dimana kami dapat menjumpai Sindang Drajat yang saat itu sedang kering akibat musim kemarau yang panjang.

Kondisi mentalku yang sudah kembali normal lantaran JM sudah makan kembali berencana untuk berjalan sendirian terpisah dari kelompok, tentunya selain memuaskan diri aku juga berharap mendapatkan pemandangan dan pengalan pribadi yang lebih asyik seperti kemarin.

Tubuhku yang ramping membuat perjalanan turun lebih mudah, secepat mungkin aku melesat turun kebawah tanpa halngan yang berarti, hingga saat sampai watu kapur langkahku terhenti di karenakan pemandangan disini juga tak kalah menarik, diiringi semilir angi mengibas rambutku, pemandangan dari sini sangatlah lepas, begitu tenag … tenang … dan tenang. Kedamai seperti jarang sekali aku rasakan, ini adalah salah satu alasan mengapa aku lebih suka medaki sendiri ketimbang berkelompok, selain bebas bergerak, aku bisa berkehendak semaunya.

Dari belakang terdengar langkah suara kaki terburu-buru, itu artinya teman-teman di belakang sudah semakin dekat, tubalikan tubuh untuk melihat siapa gerangan yang mendekat dan ternyata yang kulihat adalah sosok yang sangat akrab, “ Kenapa bro .. ?” kebertanya pada JM yang ternyata sedang terpincang-pincang, seperti biasa dia hanya melempar senyum sambil melenggang melewatiku, aku pun kali ini membalas senyum itu seraya menghantarkan tubuhnya dengan penglihatanku.

Hembusan angin yang tadi terasa sejuk kini mulai membuat tubuh menjadi dingin, JM pun perlahan-lahan muali tak terlihat dari pandanganku, segera saja kubangunkan tubuh ini untuk segera menyusul sahabatku yang terpincang itu.

Tersadar kalau dia terpincang dan mungkin butuh pertolongan aku menjadi khawatir, dengan langkah lebih cepat dari sebelumnya aku mulai mengayuh kaki ini agar segera dapat menemui sahabatku itu. Kaos berwarna orange yang biasa dia kenakan untuk mendaki kini seakan titik kecil dari pandanganku. Ku ayun lagi langkah lebih lebar setengah berlari demi menemuinya, ke khawatiran yang tiba-tiba saja muncul semakin menjadi-jadi. Entah datang dari mana perasaan resah ini mulai lagi berkecambuk.

semakin lama, langkah semakin melambat, pandangan mata mulai sedikit kabur, dan JM pun sudah sama sekali tak terlihat, ku hentikan sejenak langkah ini demi pasokan oksigen yang mulai menipis dalam tubuh dan otak ku. Tak sampai beberapa menit ku berlari lagi menghalau jalur lebar yang mualai membentang dan seolah mengejek keadaanku, namun lagi-lagi pandangan menjadi kabur, dada yang bertambah sesak perlu diberi pasokan oksigen lebih sehingga langkahlah yang harus kembali ku hentikan. Kali ini ku coba untuk berbaring terlentang beberapa menit agar kondisi tubuh segera pulih.

Bekali-kali ku berlari dan berkali-kali pula aku berhenti, namun JM belum juga terlihat. Kecemasan yang bekecambuk ini membuat ku harus berpikir ulang, “ apa lagi gerangan ini ? “. Mengapa rasa cemas terus mucul berkesinambungan semenjak awal ku mendaki, sebatang rokok yang ikut andil dalam memanipulasi berpikir akhirnya habis juga terbakar bara api. Jawabanan pun sudah hampir di temukan, dan kesimpulan dari semua ini adalah fakta bahwa aku kangen. Kangen bertemu JM.

******

ALIRAN SEBATANG ROKOK

Tak seperti biasanya setiap mendaki bersama JM, kami senantiasa kompak dan selalu berketergantungan, biasanya kami berjalan sambil ngobrol dari mulai hal sepele hingga hal yang dirasa cukup berat, hingga perjalanan mendaki menjadi sangat berarti sekaligus menyenangkan.

Sedalam mungkin kuhisap rokok yang membuat bibirku semakin menghitam dan terasa perih tak lagi kuperdulikan, rasa letih dan perih kaki yang melepuh karna kupaksa berlari, bukan lagi persoalan. Kali ini yang kuingin hanyalah bertemu dengan sahabatku itu. 

“ Kawan dimana kini kau berada, tersadar akan keadaan dimana kita jauh padahal sebenarnya kita sangat dekat, bukan hanya ironic tapi juga menakutkan. Senyuman yang biasa kau gunakan sebagai jawaban pertanyaanku dari kemarin ingin kulihat lagi “.

Inilah saat aku mengerti dengan kenyataan mengapa kita akan marah dengan seseorang yang dekat dengak kita hanya karena dia tak mendengarkan keinginan kita, walaupun memang sikap seperti itu adalah rasa peduli yang memang murni, terkadang sesuatu yang baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain. Bahwasanya setiap orang mempunyai kapasitasnya, baik dalam berpikir dan bersikap, tentang apa yang baik dan buruk untuknya. Seharusnya juga kita bisa lebih bijak dalam mentolelir hak orang lain sekalipun dia adalah sahabat kita sendiri.

Perjalanan ini sepertinya memang sudah dipersiapkan Tuhan untukku, agar aku dapat mengerti betapa pentingnya sikap saling pengertian dan mengesampingkan ego sendiri. JM yang selama ini kukenal telah memberikan pelajaran yang sangat berarti dan tak akan terlupakan, hanya dengan senyumnya. Terimakasih kawan, semoga engkau terus lebih baik agar dapat kupetik pelajaran darimu lagi.

6 komentar:

  1. JM = Jamal ?? wwuuooo..... saallaahh.... yg benar JM = Justin Mieber.... aahiihihihiiii..... ^_^

    BalasHapus
  2. menarik banget ceritanya mas.... hobby mendaki gunung sudah mendarah daging kayaknya nih ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang mendarah darah mba, hehey :D

      Hapus
  3. Wew...
    gak nyangka Om manki bisa nulis sekeren ini
    Tapi om manki akhirnya pernah ke Mahameru kan?
    pengen banget kesana om, dari jakarta naik kereta ekonomi...
    *kedengarannya mengasikkan*

    Well, JM meninggal yah? hilang? atau setelah pendakian itu dia gak lagi menghubungi om Manki?
    *penasaran euy*

    BalasHapus
  4. @Syam : hihi, jadi GeEr nih ... wew :p

    iya dong, gak lama dari sana ke Mahameru :p
    iya syam, naik kereta ekonomi itu asik banget lho, banyak kejadian anehnya, hihihi ...

    soal JM, dia masih hidup syam, gak meninggal, tp sekarang dia sudah menikah, dan kita jadi jarang banget ketemu, mendaki juga udah susah sekarang dia, soalnya dah punya istri, gitu lho :p

    BalasHapus